Breaking News
recent

Cerita Bersambung (Cerbung) "ROMANCING THE SMOKING TOWN" (Bag. 2)



Bacalah terlebih dahulu bagian 1. klik di sini


1. ELVIS COMES FOR THE SHOW (Bag. 2)


Empat batang pohon flamboyan yang tumbuh sangat rindang di halaman depan sekolah bergoyang-goyang ditiup angin pagi. Sebatang tiang bendera setinggi lebih kurang 15 meter juga ikut bergoyang-goyang lembut.
Aku lihat siswa yang datang belum begitu ramai. Baru sekitar 50-an orang. Mereka masih duduk di teras depan sambil bercengkerama. Beberapa murid perempuan nampak sedang sibuk menyapu, membersihkan kelas.
Aku langsung masuk ke gedung sekolah dan duduk di sofa, di ruang tamu, di depan ruangan bapak kepala sekolah. Dan menunggu kedatangan beliau di situ.

Aku tebarkan pandangan berkeliling pada dinding ruangan. Di dinding samping, sebelah kiriku, ada sebuah lukisan bunga yang tergantung. Terlihat sudah cukup tua dan berdebu. Di samping pintu ruangan kepala sekolah, tergantung papan agenda acara yang terlihat kosong tak di isi. Lalu, persis di hadapanku, terpampang sebuah papan yang memuat tentang profil sekolah serta visi dan misi.
Aku baca kalimat itu dengan teliti. “Visi; menjadikan SMK Labor sebagai lembaga pendidikan kejuruan yang berstandar internasional.”
Aku sedikit ngeri dan juga geli membaca kalimat itu. Sekolah di pinggir hutan aja belagu ingin jadi sekolah bertaraf international. Hahaha… ga ketinggian? Hihihi…
Lalu aku lanjutkan membaca misi, “Misi; membentuk sumber daya manusia unggul, produktif, inovatif, dan professional; menjalankan manajemen mutu terpadu dan memberikan pelayanan prima kepada siswa dan masyarakat; melaksanakan proses pembelajaran tuntas yang bersinergi dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi serta informasi di dunia usaha dan industri; dan terakhir, menempatkan guru model dalam proses pembelajaran tuntas.”
Hmm… Masih terlalu tinggi. Kelihatannya sekolah ini bentul-betul mengamalkan apa yang dikatakan oleh Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!”.
Tapi, Ahh sudahlah! Tiap orangkan boleh saja punya mimpi. Lagipula tak bijak rasanya jika aku terus-menerus menertawakan mimpi-mimpi sekolah ini yang menurutku terlalu tinggi. ‘Kan sebentar lagi aku mau jadi guru di sini. Ada baiknya aku ikuti saja arusnya.
Satu persatu guru-guru datang melewati pintu yang aku lewati tadi. Ketika lewat mereka melirik kepadaku yang sedang duduk dan memberikan senyum. Aku sapa mereka dengan seramah yang aku bisa.
Pukul 06.58 WIB. Dua menit sebelum bel masuk dibunyikan. Dari depan, sekolah masih terlihat sepi-sepi saja. Namun aku mendengar di belakang sana suara-suara siswa cukup riuh bersenda gurau. Suara gelak tawa mereka sampai ke ruangan tunggu, ditempat aku duduk.
Aku terus menunggu…
Tepat pukul 07.00 WIB bel masuk dibunyikan. Suara bel yang tak seperti di sekolah-sekolah lain yang berirama dan harmoni. Di sini, bunyi belnya seperti bunyi terompet kapal yang akan merapat ke pelabuhan. Tak ada irama, tak ada harmoni nada. Datar saja, dan sangat keras.
Kembali aku geli mendengar bel itu.
Sekolah yang punya bel kayak terompet kapal Titanic aja belagu mau jadi sekolah bertaraf internasional. Hahaha.. Lha piye toh leeh? Kepriben!..
Beberapa saat setelah bel Titanic itu berbunyi sangat panjang, aku melihat seorang guru yang berperawakan cukup atletis dengan kumis yang sangat tebal sedang memasuki halaman sekolah dengan mengendarai motor Suzuki Tornado yang sudah lumayan tua.
Diparkirkannya motor bebek yang sudah lumayan tua itu di depan teras, agak ke samping dari pintu masuk yang aku lewati tadi.
Tampak dia sangat tergesa-gesa. Lalu memasuki gedung melewati pintu yang sama.
Ketika melihatku dia langsung bertanya, “Cari siapa?”
Aku langsung berdiri, “Saya Fikri Pak, mau ketemu bapak kepala sekolah!”
“Ooo.. Fikri ya! Yang dari jurusan Bahasa Indonesia?” tanya lagi sambil menghentikan jalannya di depanku.
“Betul Pak! Ini Pak Hendri ya?” ucapku lagi sambil mengulurkan tangan untuk menyalaminya.
“Iya..betul!”
Disambutnya uluran tanganku. Dan kami berjabatan tangan sangat erat, saling meremas satu sama lain. Cukup akrab.
Sekilas aku melihat matanya seperti menilai penampilanku. Dilihatnya wajah lebarku yang mirip Abdee Slank. Lalu, kemeja lusuh motif kotak-kotak. Celana cotton hitam yang juga lusuh, dan paling bawah, sepatu kets putih tak berkaos kaki.
Apa pendapatnya ketika melihat penampilanku ini? Apakah sudah mirip seperti seorang guru? Atau malah lebih mirip seorang pengamen yang layak dikasihani?
“Kebetulan ni Pak Fikri…. Saya panggil Pak aja ya!..” katanya membuat kesepakatan untuk menetapkan panggilan sapaan buatku, “Kelas 10 Administrasi sedang ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pagi ini. Pak Fikri langsung aja masuk kelas. Sekalian saya ikut masuk, duduk di belakang.”
Kalimatnya yang tiba-tiba dan sangat tak aku duga-duga.
Masyaallah, apa aku tak salah dengar? Koq urusannya jadi gini? Bukankah seharusnya kita duduk-duduk dulu di ruangan kepsek, Pak? Ruangan Bapak? Ngobrol-ngobrol berbasa-basi, kasih nasehat, motivasi, atau dikasih air minum dulu gitu, Pak? Tanyaku dalam hati.
Tenggorokanku mendadak kering, pandangan mulai beputar-putar dan blur. Lututku tiba-tiba terasa melemah, seperti orang yang kekurangan kalsium dan glukosamin.
“Saya belum punya persiapan untuk mengajar pagi ini Pak!” kataku sangat lirih sambil tersenyum kecut.
“Sampaikan aja materi yang Pak Fikri bisa! Cuma dua jam aja koq! Pak Fikri udah pernah praktik lapangan ‘kan?” katanya menyakinkanku.
Aku tak menjawab juga tidak mengangguk.
Saya memang pernah praktik lapangan Pak! Tapi, waktu itu, setiap mau masuk saya selalu punya persiapan. Kadang-kadang seminggu sebelum masuk sudah saya buat semua persiapannya. Jangan sekarang  dech Pak, ya? Bapak koq tega sich sama saya? Besok aja ya Pak? Besok insyaallah saya siap! Aku memohon-mohon dalam hati agar dia mau membatalkan rencananya itu.
Tentulah wajah memelasku ini terpancar jelas di depannya.
“Belum Pede saya Pak!” masih saja aku memohon agar dia mau membatalkan ucapannya tadi.
“Hehehe… Ayok! Ini udah lewat lima menit!” Katanya seperti memaksaku sambil mulai melangkah.
Apalah dayaku sebagai seorang yang lemah dipaksa sedemikian rupa. Tak ada kemampuanku untuk menolak titah itu.
Dengan sangat terpaksa aku ikuti dia dari belakang dengan jantung yang semakin lama semakin bertambah keras detaknya. Seandainya aku memakai baju press body mungkin bagian dadaku akan terlihat kembang kempis.  Kakiku mendadak terasa seperti dua buah tiang baja seberat 80 kg. Tidak bisa lagi kuayunkan, terpaksa kuseret-seret saja.
Somebody call 911 please! Or fireman, or ambulance, or whatever! I need a medic here! Pleeaseee! I got a shot!!...

Bersambung ke bagian 3
Randu Arbitra

Randu Arbitra

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.