Bacalah terlebih dahulu kisah sebelumnya
2.
NGOMONGLAH PAKE BAHASA INDONESIA YANG BAEK DAN BENER! (Bag. 1)
Aku
pandang seluruh siswa yang ada di dalam kelas itu. Jumlah mereka kira-kira 30-an
orang. Semuanya perempuan. Hanya kepala sekolah seorang saja yang laki-laki,
sedang duduk di belakang sana sambil mulai membuka buku catatannya.
Mata
mereka menatap tajam ke arahku. memaksaku berusaha keras agar tak terkencing-kencing dalam celana.
Beginikah ritual predator jika ingin mulai menyantap mangsanya?
Ada
yang begitu dalam tatapannya, ada yang berbisik-bisik ke teman sebelahnya lalu
cekikik-cekikikan, ada yang tersenyum melihatku berdiri pucat, ada yang diam
saja sambil membolak-balik buku catatannya, ada juga yang melelet-leletkan
lidahnya. Di belakang sana beberapa orang terlihat sedang mencukur jenggotnya
dengan parang panjang. Bahkan ada yang naik ke atas meja lalu tertawa
terbahak-bahak. Mirip bajak laut yang mendapatkan banyak harta rampasan.
Mungkin
otakku sudah mulai kehilangan akal sehat membuat mataku tak berfungsi dengan
benar.
“Baiklah,
untuk pertama ada baiknya jika kita berkenalan terlebih dahulu. Bisa saya
pinjam spidol, penghapus, dan daftar hadir?” kataku mulai membuka pembicaraan.
Tak
ada jawaban. Seorang diantaranya langsung berdiri dan melangkah ke depan, ke
arah meja guru. Lalu membuka laci mengambil apa yang aku minta. Lalu
menyerahkannya.
“Terima
kasih! Nama kamu siapa?” Tanyaku sambil meneriman pemberiannya.
“Dina
Armenilla” jawabnya sambil menunjukkan ke dada kanan, tempat namanya terpajang
di situ.
“Oh
ya… Ketua kelasnya siapa, Din?” tanyaku lagi.
“Saya
Pak!”
“Oohh…
berapa jumlah siswa kelas ini Din?”
“Tigapuluh
tiga Pak! Dua orang tak masuk! Tak ada khabar, tak ada surat!”
“Oohh
begitu! Terima kasih Din. Kamu boleh duduk!”
Dina
melangkah ke tempat duduknya kembali. Deretan nomor dua dari depan, paling
kiri.
Lalu
tanpa bersuara aku langsung menulis di whiteboard.
Nama
: Fikri Romansha Muhammad
TTL : Rempak, 14 Oktober 1990
Alamat : Jl. Mujahaddah no. 4 Sukajadi –
Pekanbaru
Setelah
menulis aku tutup kembali spidol yang kupakai dan mulai memperkenalkan diriku
dengan lisan saja.
“Seperti
yang kamu lihat, itu data pribadi saya. Saya belum sarjana. Saya sekarang
sedang kuliah di Universitas Riau, semester terakhir, Program Studi Bahasa dan
Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan. Insyaallah, dua bulan lagi saya akan ujian sarjana. Saat ini
saya sedang menyelesaikan skripsi saya. Di sini saya akan mengajarkan mata
pelajaran Bahasa Indonesia. Saya rasa cukup itu saja tentang diri saya…”
Tiba-tiba,
hampir seisi kelas bersorak meneriakkan sesuatu tentang data diri yang tak aku
sebutkan.
“Status,
Pak?”
“Udah
punya istri, Pak?”
“Pacar,
Pak?”
“Nomor
Hpnya, Pak?”
“Hoby,
Pak?”
Menciap-ciap
suara mereka seperti anak ayam. Apa perlunya sich mereka mau tau tentang itu semua? Belum tentu aku diterima
mengajar di sini. Dasar ABG! Omelku dalam hati.
“Saya
belum menikah! Pacarpun saya belum punya…”
“Suit...
suit... suit…”
Ehh…
malah bersuit mereka! Suitnya pun dibunyikan pakai suara, bukan pakai jari yang
ditempatkan di bawah lidah lalu ditiup. Ga
lucu dech kamu!
“Saya
rasa itu saja tentang diri saya. Karena jika diperpanjang kita malah akan
kehabisan waktu memulai pelajaran. Lagipula, kita masih punya banyak waktu
untuk saling berkenalan. Kamu di sini masih tiga tahun lagi, dan tiap hari akan
berjumpa dengan saya. Nanti kamu malah akan bosan melihat saya tiap hari. Jadi,
tentang diri saya cukup sampai sekian. Dan sebaliknya, saya juga ingin
berkenalan dengan kamu. Tapi nanti, sambil saya mengajar saya akan bertanya
kepada kamu satu persatu. Dan sebelum menjawab pertanyaan saya minta tolong
kamu sebutkan nama dan tempat tinggal!” ucapku mulai tegas.
Nampaknya
rasa percaya diriku mulai ngumpul
lagi pelan-pelan! Mungkin karena Moccacino yang aku minum tadi pagi. Atau
mungkin juga karena bulu ketiakku sudah mulai tumbuh lagi. Entahlah…
Suasana
kelas mulai senyap. Tapi, masih belum kondusif untuk memulai pelajaran. Karena
aku lihat mereka masih ada yang berbisik-bisik. Dan 29 orang diantara mereka
belum mengeluarkan buku catatan ataupun buku cetak Bahasa Indonesia.
Tentu
saja suasana seperti ini belum tepat untuk memulai pelajaran. Mereka belum
siap. Mereka belum siap untuk menerima materi yang akan aku sampaikan.
Tapi,
jika tidak dimulai tentu saja suasana ini malah akan makin bertambah buruk,
bertambah ribut. Lagipula suasana kondusif itu didapat karena diciptakan, bukan
ditunggu. Sebagai kapten yang menakhodai kapal ini akulah orang yang akan memulai
menciptakan suasana itu dan kemudian membawa mereka ke daratan tujuan. Yaitu,
tanah yang seluruh penduduknya mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
dan benar. Aku siap memulai semua itu sekarang juga!
“Baiklah
untuk pertama ini sebetulnya saya belum mempersiapkan materi untuk diajarkan.
Saya tidak tahu bahwa ada jam pelajaran bahasa Indonesia pagi ini dan langsung
masuk ke kelas. Tadi, sebelum masuk, bapak kepala sekolah menyuruh saya untuk
mengajarkan materi apa saja yang paling saya kuasai. Menurut saya, materi
bahasa Indonesia yang paling saya kuasai, dan yang paling menarik untuk
dikuasai sebenarnya adalah Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar! Jadi,
materi kita pagi ini tentang itu.” Jelasku panjang lebar, dan langsung menulis
judul pelajaran di whiteboard.
BERBAHASA
INDONESIA DENGAN BAIK DAN BENAR
1. "Dilarang membuang sampah ke dalam closet"
2. "Selamat ulang tahun ya Pak!"
Selesai
menulis kembali aku menebarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas.
“Apakah
Anda pernah melihat dua kalimat yang saya tulis di depan ini?” tanyaku kepada
seluruh siswa yang ada di dalam kelas.
“Pernaaaah..!!”
jawab mereka serempak
“Sering
malah, Pak!” Dina menimpali.
“Bagus!!
Menurut Anda, apakah kedua kalimat ini sudah benar?” tanyaku kembali.
Tak
ada jawaban, diam saja. Tapi kelihatannya mereka mulai serius berpikir.
Bersambung ke bagian 5
No comments:
Post a Comment