Breaking News
recent

Cerita Bersambung (Cerbung) "ROMANCING THE SMOKING TOWN" (Bag. 4)



Bacalah terlebih dahulu kisah sebelumnya


2. NGOMONGLAH PAKE BAHASA INDONESIA YANG BAEK DAN BENER! (Bag. 1)

Aku pandang seluruh siswa yang ada di dalam kelas itu. Jumlah mereka kira-kira 30-an orang. Semuanya perempuan. Hanya kepala sekolah seorang saja yang laki-laki, sedang duduk di belakang sana sambil mulai membuka buku catatannya.
Mata mereka menatap tajam ke arahku. memaksaku berusaha keras agar tak terkencing-kencing dalam celana. Beginikah ritual predator jika ingin mulai menyantap mangsanya?
Ada yang begitu dalam tatapannya, ada yang berbisik-bisik ke teman sebelahnya lalu cekikik-cekikikan, ada yang tersenyum melihatku berdiri pucat, ada yang diam saja sambil membolak-balik buku catatannya, ada juga yang melelet-leletkan lidahnya. Di belakang sana beberapa orang terlihat sedang mencukur jenggotnya dengan parang panjang. Bahkan ada yang naik ke atas meja lalu tertawa terbahak-bahak. Mirip bajak laut yang mendapatkan banyak harta rampasan.

Mungkin otakku sudah mulai kehilangan akal sehat membuat mataku tak berfungsi dengan benar.
“Baiklah, untuk pertama ada baiknya jika kita berkenalan terlebih dahulu. Bisa saya pinjam spidol, penghapus, dan daftar hadir?” kataku mulai membuka pembicaraan.
Tak ada jawaban. Seorang diantaranya langsung berdiri dan melangkah ke depan, ke arah meja guru. Lalu membuka laci mengambil apa yang aku minta. Lalu menyerahkannya.
“Terima kasih! Nama kamu siapa?” Tanyaku sambil meneriman pemberiannya.
“Dina Armenilla” jawabnya sambil menunjukkan ke dada kanan, tempat namanya terpajang di situ.
“Oh ya… Ketua kelasnya siapa, Din?” tanyaku lagi.
“Saya Pak!”
“Oohh… berapa jumlah siswa kelas ini Din?”
“Tigapuluh tiga Pak! Dua orang tak masuk! Tak ada khabar, tak ada surat!”
“Oohh begitu! Terima kasih Din. Kamu boleh duduk!”
Dina melangkah ke tempat duduknya kembali. Deretan nomor dua dari depan, paling kiri.
Lalu tanpa bersuara aku langsung menulis di whiteboard.
Nama          : Fikri Romansha Muhammad
TTL            : Rempak, 14 Oktober 1990
Alamat       : Jl. Mujahaddah no. 4 Sukajadi – Pekanbaru
Setelah menulis aku tutup kembali spidol yang kupakai dan mulai memperkenalkan diriku dengan lisan saja.
“Seperti yang kamu lihat, itu data pribadi saya. Saya belum sarjana. Saya sekarang sedang kuliah di Universitas Riau, semester terakhir, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas  Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Insyaallah, dua bulan lagi saya akan ujian sarjana. Saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi saya. Di sini saya akan mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya rasa cukup itu saja tentang diri saya…”
Tiba-tiba, hampir seisi kelas bersorak meneriakkan sesuatu tentang data diri yang tak aku sebutkan.
“Status, Pak?”
“Udah punya istri, Pak?”
“Pacar, Pak?”
“Nomor Hpnya, Pak?”
“Hoby, Pak?”
Menciap-ciap suara mereka seperti anak ayam. Apa perlunya sich mereka mau tau tentang itu semua? Belum tentu aku diterima mengajar di sini. Dasar ABG! Omelku dalam hati.
“Saya belum menikah! Pacarpun saya belum punya…”
“Suit... suit... suit…”
Ehh… malah bersuit mereka! Suitnya pun dibunyikan pakai suara, bukan pakai jari yang ditempatkan di bawah lidah lalu ditiup. Ga lucu dech kamu!
“Saya rasa itu saja tentang diri saya. Karena jika diperpanjang kita malah akan kehabisan waktu memulai pelajaran. Lagipula, kita masih punya banyak waktu untuk saling berkenalan. Kamu di sini masih tiga tahun lagi, dan tiap hari akan berjumpa dengan saya. Nanti kamu malah akan bosan melihat saya tiap hari. Jadi, tentang diri saya cukup sampai sekian. Dan sebaliknya, saya juga ingin berkenalan dengan kamu. Tapi nanti, sambil saya mengajar saya akan bertanya kepada kamu satu persatu. Dan sebelum menjawab pertanyaan saya minta tolong kamu sebutkan nama dan tempat tinggal!” ucapku mulai tegas.
Nampaknya rasa percaya diriku mulai ngumpul lagi pelan-pelan! Mungkin karena Moccacino yang aku minum tadi pagi. Atau mungkin juga karena bulu ketiakku sudah mulai tumbuh lagi. Entahlah…
Suasana kelas mulai senyap. Tapi, masih belum kondusif untuk memulai pelajaran. Karena aku lihat mereka masih ada yang berbisik-bisik. Dan 29 orang diantara mereka belum mengeluarkan buku catatan ataupun buku cetak Bahasa Indonesia.
Tentu saja suasana seperti ini belum tepat untuk memulai pelajaran. Mereka belum siap. Mereka belum siap untuk menerima materi yang akan aku sampaikan.
Tapi, jika tidak dimulai tentu saja suasana ini malah akan makin bertambah buruk, bertambah ribut. Lagipula suasana kondusif itu didapat karena diciptakan, bukan ditunggu. Sebagai kapten yang menakhodai kapal ini akulah orang yang akan memulai menciptakan suasana itu dan kemudian membawa mereka ke daratan tujuan. Yaitu, tanah yang seluruh penduduknya mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Aku siap memulai semua itu sekarang juga!
“Baiklah untuk pertama ini sebetulnya saya belum mempersiapkan materi untuk diajarkan. Saya tidak tahu bahwa ada jam pelajaran bahasa Indonesia pagi ini dan langsung masuk ke kelas. Tadi, sebelum masuk, bapak kepala sekolah menyuruh saya untuk mengajarkan materi apa saja yang paling saya kuasai. Menurut saya, materi bahasa Indonesia yang paling saya kuasai, dan yang paling menarik untuk dikuasai sebenarnya adalah Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar! Jadi, materi kita pagi ini tentang itu.” Jelasku panjang lebar, dan langsung menulis judul pelajaran di whiteboard

BERBAHASA INDONESIA DENGAN BAIK DAN BENAR
1.    "Dilarang membuang sampah ke dalam closet"
2.    "Selamat ulang tahun ya Pak!"
Selesai menulis kembali aku menebarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas.
“Apakah Anda pernah melihat dua kalimat yang saya tulis di depan ini?” tanyaku kepada seluruh siswa yang ada di dalam kelas.
“Pernaaaah..!!” jawab mereka serempak
“Sering malah, Pak!” Dina menimpali.
“Bagus!! Menurut Anda, apakah kedua kalimat ini sudah benar?” tanyaku kembali.
Tak ada jawaban, diam saja. Tapi kelihatannya mereka mulai serius berpikir.

Bersambung ke bagian 5
Randu Arbitra

Randu Arbitra

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.