Bissmillahhirohmanirohhim.
Sebetulnya agak berat juga memposting
tulisan ini. Karena, saya berharap tulisan ini menjadi sebuah novel
yang akan saya cetak nantinya dan bisa dipajang di toko buku-toko buku, sebagai
novel kedua saya. (Novel saya yang pertama berjudul "Saya Benci
Insyaallah").
Namun, atas saran teman-teman, akhirnya saya
posting juga tulisan ini menjadi cerita bersambung (Cerbung) di blog
ini. Saya berharap mudah-mudahan pembaca novel ini tidak kurang banyak daripada
apabila ianya dicetak menjadi sebuah novel, amin.
Insyaallah, cerita ini akan saya update pada setiap
hari Senin dan Kamis. Jadi bersabarlah jika ingin terus membacanya sampai
khatam.
Tak usah berpanjang lebar lagi, langsung saja saya
sajikan bagian satu dari tulisan ini.
1. ELVIS COMES FOR THE SHOW
Sebelum
berangkat, sekali lagi aku mematut-patutkan diri di depan cermin. Kemeja lusuh
motif kotak-kotak, ujung bawahnya kumasukkan ke dalam celana cotton hitam yang juga lusuh. Rambut
hitam agak gondrong tersisir rapi berminyak. Wajah agak lebar, mirip wajah Abdee,
gitaris Slank. Alhamdulillah, masih ganteng, masih segar, dan masih membuat aku
percaya diri.
Kuteguk
dua kali Moccacino dingin yang ada di
atas meja. Sambil berseru pada Kak Rida yang sedang mencuci di kamar mandi,
“Kak, Fikri pergi dulu ye!
Assalamulaikum!”
“Yo!
Jangan lupe pintu depan ditutup
lagi.” Jawab Kak Rida sambil berteriak.
Aku
tak menjawabnya. Langsung berangkat. Keluar dari rumah dan kembali menutup
pintu depan.
Aku
mulai langkahku pagi ini dengan membaca doa “Bismillahirrohmaanirrohim,
Robbisrhohli shodri, wayasirli amri, wahlul ukhdatam bilisani, yafqahu qouli”
Rumah
kostku terletak di sebuah gang kecil, Gang Mujahaddah, Sukajadi, Pekanbaru.
Pagi ini aku berangkat ke jalan Thamrin. Namun, aku harus ke jalan Pattimura
terlebih dahulu untuk mendapatkan angkutan umum yang akan mengantarku ke jalan Thamrin.
Untuk sampai ke jalan Pattimura aku harus jalan
kaki, menempuh jarak lebih kurang 1.3 km, atau
sekitar 15 menit jalan cepat.
Maklumlah,
aku masih seorang mahasiswa. Belum mampu beli motor sendiri. Mau minta dibelikan
sama Bapak aku tak berani. Lagipula, pasti tak bakal dikasi, karena tak mungkin
beliau punya uang. Beliau hanya seorang kepala sekolah SD di kampung. Berapa sich gaji seorang kepala sekolah SD di
kampung? Anak-anaknya malah banyak. Lebih
dari setengah lusin. Tepatnya 8 orang. Dapat dikirimi uang kuliah aja sudah
syukur. Kakak, abang, dan adik-adikku yang lain juga perlu makan, pakaian, dan
sekolah. Durhakalah aku jika masih berani minta dibelikan motor.
Lagipula
aku memang suka jalan kaki. Sejak SD sampai kuliah aku selalu jalan kaki bila ingin
kemana-mana. Kalau terasa penat, ya tinggal berhenti saja untuk istirahat. Aku
punya sepasang kaki yang sangat kuat untuk diajak berjalan jauh. Jadi, rasanya tak ada yang kurang. Meskipun
aku belum memiliki motor.
Khalifah
Umar Bin Khatab, si penguasa jazirah Arab pun hanya memiliki keledai yang jalannya
lambat. Bukan seekor kuda atau unta. Seorang penguasa besar saja mampu
berzuhud, kenapa aku tidak?
Jalan Cempedak sudah sangat ramai dipadati oleh
pengendara sejak pukul 5 pagi. Jalan ini adalah jalan penghubung yang sangat
vital antara jalan Sudirman dengan jalan Taskurun, yang salah satu ujungnya
berakhir di terminal lama, Terminal Mayang Terurai, dan pasar pagi Cik Puan.
Bagi ibu-ibu rumah tangga yang mau berbelanja kebutuhan
dapur yang masih segar di pagi hari mereka akan mendapatkannya dengan berbelanja
di pasar Cik Puan yang letaknya persis di sebelah timur Terminal Mayang
Terurai. Kebanyakan dari ibu-ibu ini sudah pergi dari rumah sejak selesai
shalat subuh dengan menumpang angkutan yang melewati jalan Cempedak ini.
Aku tak suka berjalan kaki di jalan yang penuh sesak
dengan kenderaan seperti jalan Cempedak. Raungan mesin, house music, kepulan asap, debu, dan bunyi klakson yang di tekan
lama-lama oleh pengemudi angkot yang
mengejar setoran membuat darahku cepat naik ke ubun-ubun.
Lagi pula jika aku menyusuri jalan ini sampai ke ujung timur
sana akan terasa sangat jauh. Agar lebih cepat sampai
ke jalan Pattimura aku sengaja memilih melewati gang-gang sempit. Bahkan
melewati jalan tikus, di belakang rumah orang.
Sudah
agak siang ketika aku sampai di jalan Pattimura. Pukul 06.35 WIB.
Sesuai
pesan Pak Hendri, Kepala SMK Labor, melalui sms malam kemaren, aku harus sudah sampai
di SMK Labor pukul 07.00 WIB pagi ini. Beliau ingin segera bertemu denganku karena
kebutuhan terhadap guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia telah
sangat mendesak. Telah beberapa minggu sekolah yang dipimpinnya itu hanya
mengandalkan guru pengganti untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Karena guru Bahasa Indonesia yang lama telah mengundurkan diri, pulang kampung,
di Bangkinang. Katanya, dia akan menjadi guru honor di salah satu SMP di sana.
Tentu
saja si guru pengganti yang ditugaskan oleh Pak Hendri hanya bisa mengandalkan
metode pelajaran Catat Buku Sampai Habis (CBSA). Tak ada ceramah, uraian, atau
penjelasan sama sekali. Karena si ‘bapak guru pengganti’ tak memiliki ilmu
lingusitik yang mencukupi untuk mengajarkan materi ini. Apalagi untuk
mempraktikan dan memvisualisasikan sebuah karya sastra.
Sedangkan
aku, walaupun belum sarjana, tapi paling tidak aku adalah mahasiswa Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, di Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Unirversitas Riau. Sekarang aku sudah semester sembilan. Semua
teori perkuliahanku sudah habis. Praktik Mengajar, selama empat bulan, juga
sudah aku selesaikan dengan predikat nilai A. Jadi, sudah sangat pantas aku
untuk mengajar di depan kelas. Hanya tinggal menyelesaikan skripsi dan ujian
sarjana.
Ketika
aku sampai di simpang jalan Pattimura ada dua angkot yang sedang berhenti mangkal
menunggu penumpang di situ. Tanpa berpikir panjang aku langsung menaiki angkot
yang di depan, karena di dalamnya sudah ada 8 penumpang. Berarti hanya menunggu
3 orang lagi. Mungkin saja bisa lebih cepat, tak perlu menunggu hingga sebelas
orang penumpang.
Musik
yang diputar Pak sopir terlalu keras. Lagu Ada Apa Denganmu, milik Peterpan,
yang sangat romantis, tapi diarrangement
ulang dengan house music, membuat
kesan romantisnya lenyap tak berbekas.
Yang ada, malah jadi ingin geleng-geleng kepala mendengarnya. Orang sekarang menyebutnya dengan istilah triping.
Hanya
lebih kurang 3 menit aku menunggu. Satu persatu penumpang datang dan langsung
naik ke dalam angkot. Mungkin karena masih pagi, dan pas dengan waktu keberangakatan
siswa-siswa ke sekolah jadi dengan cepat angkot telah terisi penuh 11
penumpang.
Angkot
langsung berangkat. Menyusuri ruas jalan Pattimura, bertemu simpang jalan
Diponegoro, bundaran, sekolah MAN
2 Model, Kantor Dinas Perikanan dan Kelautan,
kampus Universitas Riau, sekolah
SMK Negeri 2, Kampus
SPN, Kantor Dispora Kota Pekanbaru, sekolah SMAN 6. Berbelok,
memasuki jalan Beringin, bertemu simpang Ronggowarsito, melewati SMP Santa
Maria. Berbelok lagi, masuk ke jalan Cemara, dan berhenti di depan gang Widya
Arisa.
Dari
sini aku harus jalan kaki sekitar 200 meter untuk sampai ke SMK Labor, alamat
yang kutuju.
Aku
bayar ongkos Rp 2000 kepada pak sopir. Tak
lupa mengucapakan terima kasih.
Pukul
06.50 WIB. Aku sampai di halaman SMK Labor.
Alhamdulillah
tak telat.
Bersambung ke bagian dua. klik di sini
Ditunggu sambungannya :-)
ReplyDelete(y)
ReplyDelete