- Sebuah transparansi jiwa yang telah lama ditinggalkan -
Sayang, kau pikir dirimu masih ada disini, di dalam hatiku? Memang masih ada.
Kau kira aku masih mencintaimu? Memang, masih cinta. Tapi sering kali aku melupakannya jika aku ada waktu...
Memang, beberapa kalimatmu masih sering aku ucapkan pertanda bahwa aku masih mengingatmu. Dan beberapa kekonyolanmu masih membuatku senyum-senyum sendiri jika sedang melamun. Sungguh sangat banyak kenangan manis bersamamu yang sulit untuk dilupakan, sebanyak sakit hati yang pernah engkau lakukan. Jadi impas! Tak hitam tak putih, tak surga tak neraka.
Biasanya aku selalu berdoa agar aku selalu mengingat sesuatu, dan tak pernah ingin melupakannya. Terutama kenangan-kenangan manis. Tapi sekarang, aku takkan berdoa untuk itu, mengharappun tidak. Biarlah saja dia ada disitu. Tapi mungkin tak akan aku bongkar-bongkar lagi. Aku malas, sakit kepala.
Hampir satu tahun kita tak bertemu apa kabarmu sekarang, Sayang? Apa kegiatanmu untuk merentas hari? Pernahkah kau memikirkan aku? Masihkah kau melakukan hal-hal bodoh seperti yang pernah kau lakukan saat kita bersama dulu? Itu bagian favoritku saat kita sedang berdua.
Entah pikiran apa yang ada dibenakmu sehingga beberapa hari yang lalu berkunjung ke tempatku. Apakah untuk melihat keadaanku sebagai orang yang kau sakiti? Atau memberi kabar tentang keadaanmu saat ini? Atau malah ingin mengejekku? Aku pun tak tau. Tapi yang jelas kedatanganmu beberapa hari yang lalu itu membawa harapan baru bagiku untuk mengubah beberapa hal. Walaupun saat itu kita tak banyak bicara. Hanya saling diam, saling tersenyum, dan diam lagi, lalu tersenyum lagi. Persis seperti dua orang baru berkenalan. Tak jadi apa, sebab kadang-kadang kita lebih banyak memahami sesuatu pada saat kita diam, daripada berbicara.
Andai memang takdir menyatukan kita kembali, apa yang mesti kita lakukan? Saling diamkah? Saling asingkah? Atau mungkin kita cair dalam suasana akrab seolah hal-hal yang buruk dahulu itu tak pernah terjadi? Atau malah engkau menolak takdir dan mengingkarinya? Tapi bagiku, jika memang takdir membuat kita bersatu kembali aku takkan menolaknya.
Perlu engkau ketahui, bahwa sejak engkau meninggalkan aku hampir setahun yang lalu, aku belum berniat mencari penggantimu. Atau lebih tepatnya aku katakan bahwa aku belum mendapatkan penggantimu. Aku masih tetap mengosongkan ruang hatiku. Nah, andai kau berniat untuk menempatinya kembali maka aku akan memperbesar ruang itu, menanamnya beberapa bunga, agar kau nyaman tinggal berlama-lama disitu. Tugasmu hanyalah menyiram pohon-pohon yang aku tanam agar dia tumbuh subur. Akupun berniat melakukan tugas yang sama. Andai kata kau pun berniat untuk menanam bunga yang berbeda, katakan saja padaku. Aku telah menyadari bahwa beberapa pilihanmu selama ini kadang-kadang memang lebih baik dari pilihanku.
Namun, jika kau tak berniat kembali kesini, apa boleh buat, mungkin aku akan menunggu orang lain yang pantas. Bagiku tak banyak lagi opsi yang bisa kupilih dengan keadaan sekarang, makanya aku hanya bisa memakai kata menunggu, bukan mencari. Aku hanyalah objek pasif yang hanya boleh menggunakan prefiks "di".
Berbeda denganmu. Saat ini engkau berada pada puncak menara gading. 1001 opsi masih bisa kau pilih untuk dimiliki. Engkau seperti subjek aktif yang memang seharusnya menggunakan prefiks "me".
Baiklah Sayang, sepertinya aku telah mendeskripsikan keadaanku luar dan dalam. Jadi, jika saat ini aku tak pernah lagi mengunjungimu bukan berarti aku tak berniat mengubah keadaan ini lebih baik. Karena aku hanyalah "di".
Lembahanai, Monday, May 18th, 2009
Started 02.08 PM
Finished, Wednesday, March, 10th, 2010; 09.35 AM
A lonely guy wishes a happier future.
Jika berkenan silakan baca cerpen lain di bawah ini:
Ketika Sampai Di Ujung Langit
Ulat Kecil
No comments:
Post a Comment