Breaking News
recent

Cerpen Remaja ULAT KECIL (a Little romance story)

Once upon a time ....
Pada suatu hari, seekor ulat kecil menangis di atas dahan karena kehilangan induknya. Dia menangis, tiap hari menangis. Dia mencari dan tiap hari mencari. Melihat ke setiap celah yang ia temui. Berharap bisa menemukan ibunya di salah satu celah itu. Tapi, tetap saja dia tak menemukannya. Karena ibunya, seekor kupu-kupu telah terbang jauh, sangat jauh. Dan ia pun menangis, tiap hari menangis. Sampai dia tak sadar sekarang dia telah memiliki dua lembar sayap cantik.
Sekarang ulat kecil  telah menjadi kupu-kupu remaja dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari ulat yang lain yang akan dilahirkannya.
***

A few months earlier
....
Ingatkah kau tentang cerita itu? Dulu, hampir tiap sore aku menceritakannya padamu. Seingatku, kau pun tak pernah menolak atau tak menyukai jika aku menceritakan kisah ini. Apalagi ketika si ulat kecil bertemu celah, kau selalu tertawa geli dan genit. Kadang matamu sampai berair karena terlalu keras tertawa, dan memohon padaku untuk menghentikan ceritanya. Tapi aku pura-pura tak mendengarkan, aku terus saja bercerita, menjadi ulat kecil yang semakin giat dan semakin liar mencari ibunya yang hilang. Menemukan setiap celah yang ada, dan melongok ke dalamnya.
Yeeeps, boleh dikatakan, aku adalah seorang pendongeng yang hebat. Aku bahkan bisa menceritakan sebuah kisah sambil mengarangnya.
Tapi celakanya, aku adalah seorang pecinta yang gagal. Terlalu banyak kesalahan yang aku buat, bahkan setiap hari mengulang kesalahan yang sama.
Tahukah kamu, letak kehebatan cerita seekor Ulat Kecil itu, Say? Padahal, kisahnya sangat membosankan. Tak pernah ada komplik, dan tak pernah ada dialog dalam cerita itu. Tokohnyapun cuma ada satu, seekor ulat kecil yang mencari induknya. Lebih buruknya lagi, aku bahkan tak pernah bercerita sampai selesai.
Tapi hebatnya, cerita itu telah membuat hubungan kita jadi hangat setiap hari. Pertengkaran kecil kita tadi pagi, tentang kecemburuanku padamu, menjadi tak terasa. Jika aku ceritakan kisah ini di saat kau akan berangkat pulang, maka malamnya kita selalu mengirim sms dengan kalimat-kalimat yang hangat menyenangkan.
Pernah satu ketika, saat kita berada pada escalator sebuah mall. Aku merasa terlalu ramai orang di mall. Aku benci orang ramai, sangat membosankan, dan aku ingin sekali bercerita tentang kisah Ulat Kecil. Tapi sambil tertawa terbahak kau menolaknya. Padahal aku sangat ingin bercerita saat itu!
***
Present day ....
Sekarang aku tak pernah lagi bercerita tentang Ulat Kecil. Karena aku tak berminat lagi untuk menceritakannya, dan mungkin saja tak ada lagi orang yang bakalan menyukai cerita ini. Makanya aku tulis sebagai catatan kecil agar cerita ini tak terlupakan.
Sebenarnya jika aku katakan aku tak berminat lagi bercerita, sesungguhnya tidak seluruhnya itu benar. Aku masih sangat berminat bercerita tentang Ulat Kecil, bahkan setelah sekian lama kita tak bersua, keinginan itu makin bertambah-tambah. Bahkan sekarang aku punya sebuah kisah baru, yang berjudul "Seekor Anak Ayam Yang Ceroboh Terhimpit Pohon Tumbang". Kisah ini belum pernah aku ceritakan pada seorangpun. Dan aku bisa jamin bahwa kisah ini tak kalah menarik dari kisah Ulat Kecil.
Tapi aku masih menunggu orang yang tepat untuk menceritakannya. Karena seorang pendongeng yang hebat sangat bergantung pada minat si pendengarnya. (Mj)


Jika berkenan silakan baca cerpen lain di bawah ini:
Ketika Sampai Di Ujung Langit
Hanya "Di"

Randu Arbitra

Randu Arbitra

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.