Bacalah terlebih dahulu bagian 2. klik di sini
1. ELVIS COMES FOR THE SHOW (Bag. 3)
“Robbi shohri shodri
wayasirli amri wahlul uddatam bilisani yafqaulu qouli … Robbi shohri shodri
wayasirli amri wahlul uddatam bilisani yafqaulu qouli … Robbi shohri shodri
wayasirli amri wahlul uddatam bilisani yafqaulu qouli … Rabbana atina fiddun ya
khasanah, wafil aakhiroti khasanah wakina azabbannar!” Kembali
aku lafalkan doa itu berkali-kali sambil berjalan mengikutinya.
Aku
menduga bahwa sekolah ini hanya terdiri dari dua kelas. Karena lokal yang
paling ujung sunyi senyap seperti tak berpenghuni. Dan aku yakin sekali bahwa
kelas yang akan aku masuki adalah kelas yang paling pertama dari sini. Karena
dari dalam kelas itulah terdengar suara ribut. Sedangkan dari dalam lokal yang
di sana hanya terdengar suara
seorang guru yang sedang berceramah.
Semakin
dekat ke pintu kelas yang dituju semakin keras terdengar suara siswa-siswa yang
ribut di dalamnya. Suara-suara itu seperti suara singa-singa betina yang sedang
lapar. Sebentar lagi mereka akan menancapkan taring-taringnya ke seluruh bagian
tubuhku, merobek-robek dagingku, dan memburai-buraikan semua jeroanku. Nyawaku
tak akan tertolong lagi. Tinggallah semua kenikmatan dunia ini. Ohh.. nasib!
Yah, sudahlah!
Mudah-mudahan aku ditempatkan bersama arwah-arwah kaum muslimin yang dicintai
oleh-Nya, amin.
“Ayo
Pak Fikri! Dipercepat!”Ajak pak kepsek seolah memaksaku mempercepat langkahku
untuk masuk ke liang neraka.
Ingin
sekali rasanya aku menjawab, “Sebentar dulu Pak! Kita berhenti dulu di sini!
Saya mau menyeka keringat dulu. Nanti kalau jantung saya udah normal baru kita
lanjutkan lagi.”
Sekitar
10 langkah lagi menuju pintu kelas. Bathinku semakin bergejolak. Doaku semakin cepat kulafalkan.
Tak jelas lagi panjang pendeknya, tak jelas lagi qolqollah dan Idghamnya.
Tak tartil lagi bacaanku.
Ibu
piket, tolong donk ditekan bel
istirahat! Atau kalau tidak, bantuin papah saya berjalan sampai ke dalam kelas donk!
Akhirnya
perjalanan paling panjang dalam hidupku itu sampai juga ke tempat yang dituju.
Tepat di depan sebuah lokal yang pintunya tak tertutup. Pak kepsek berdiri
tegak di depan pintu itu. Gagah, kokoh, seperti patung Liberty. Kehadirannya mampu
membuat suasana kelas yang tadinya ribut seperti pasar impres menjadi tenang
layaknya ruangan tak
berpenghuni.
Aku
belum berani menampakkan muka dan melongok ke dalam kelas. Tingkahku tak ubah seperti
anak kecil yang masih berumur 5 tahun yang suka sembunyi dibalik punggung
bapaknya sambil menunduk karena takut dan malu diajak berkenalan oleh orang
yang tak di kenal.
“Ayo
Pak Fikri, silakan!” kata pak kepsek lagi mengajakku.
Tak
bisa kutolak lagi. Akhirnya terpaksa aku harus muncul dan menampakkan muka di
depan singa-singa betina yang lapar itu. Seekor kancil ini sudah begitu pasrah,
menyerahkan nyawanya kepada sekumpulan predator bertaring dan bercakar.
Siap untuk dimangsa bulat-bulat.
Berdiri
di depan kelas dengan muka pucat. Terhempas sudah rasa percaya diriku
berkecai-kecai. Ternyata arwahku tak diterima di surga. Nampaknya aku akan
dibenamkan ke dalam liang neraka, dan kekal di dalamnya.
“Assalamualaikum!”
ucapku memberi salam.
“Walaikumsalam
warahmatullahi wabarakaaaatuh!” jawab mereka
serempak dan sangat keras.
Lalu
pak kepsek langsung mendekat kepadaku dan membisikkan sesuatu, “Saya langsung
duduk di belakang aja ya! Jangan lupa perkenalannya!”
Aku
mengangguk tanda mengerti.
Aku
tatap punggung pak kepsek yang sedang melangkah ke belakang kelas. Dia akan
menilai penampilanku di depan kelas hari ini. Ilmu yang hampir empat setengah
tahun telah aku pelajari di kampus, hari ini akan aku pertanggungjawabkan di
depannya dan di depan siswa-siswa ini.
Bersambung bagian 4
No comments:
Post a Comment