Bacalah terlebih dahulu kisah sebelumnya
2.
NGOMONGLAH PAKE BAHASA INDONESIA YANG BAEK DAN BENER! (Bag. 2)
“Baiklah,
biar tidak berlama-lama dan menghabiskan waktu dengan kedua kalimat ini, ada
baiknya saya langsung saja mengatakan bahwa kedua kalimat ini tidaklah benar.
Malah satu diantaranya termasuk kategori tidak baik.”Jelasku mulai agak santai
karena sudah masuk ke materi bahasa Indonesia.
Ini
masalah sepele bagiku. Empat setengah tahun aku kuliah di Program studi bahasa
Indonesia, rasanya bekal ilmuku sudah cukup memungkinkan untuk jadi pengajar di
bidang ini.
“Untuk
kalimat pertama, ‘Dilarang
membuang sampah ke dalam closet’,
Kalimat ini sering
ditulis pada bahan metal atau plastik lalu ditempel di dinding toilet sebagai
sebuah larangan. Sebenarnya makna kalimat ini sangat kejam, tapi juga lucu.
Mengapa saya katakan demikian? Karena, jika kita kaji makna kata ‘sampah’, adalah sesuatu yang biasanya sudah tidak
diperlukan lagi. Misalnya, kantong plastik bekas, kaleng
susu bekas, kulit
pisang, daun-daun yang gugur, kotoran kambing, dan lain-lain. Sampah-sampah
yang saya sebutkan itu ada yang bersifat nonorganik dan organik.”
“Kotoran manusia adalah makanan yang sudah
menjadi sampah karena tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Kotoran ini adalah
ampas yang sudah diambil sarinya. Oleh karena itu kotoran manusia tergolong
sampah organik.”
“Jadi, jika ada larangan membuang sampah ke dalam
closet yang ditempel di dinding toilet bukankah ini adalah sebuah larangan yang
sangat kejam? Sebab hampir semua orang yang datang
ke toilet karena
berhajat ingin membuang sampah. Betul tidak?”
Jelasku panjang lebar dan mulai menemukan percaya diri. Di ujung kalimat aku
mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan persetujuan.
“Hihihihihi….
Betuuulll” jawab mereka serempak.
Beberapa
orang siswa tertawa lirih karena mulai menyadari kesalahan makna kalimat yang
selama ini mereka baca. Beberapa siswa yang lain ada yang cuma tersenyum saja.
Lalu
aku melanjutkan penjelasan, “ Lalu, kata ‘dilarang’ dalam kajian etika sebenarnya hanya boleh
ditujukan kepada anak kecil atau orang yang sangat rendah kedudukannya.
Lagipula dalam kajian psikologi hampir semua manusia tidak suka dilarang.
Manusia lebih suka dimintai dan ditunjukkan. Sehingga dalam konteks ini menurut
saya kata ini kurang baik. Alangkah bijaknya jika kita mengganti kata dilarang
menjadi kata mohon atau terima kasih.”
“Jadi,
menurut saya kalimat
yang baik dan benar untuk mengganti kalimat ini
ialah...
Mohon tidak membuang sampah nonorganik
ke dalam closet!
Terima kasih jika Anda tidak membuang sampah
nonorganik kedalam closet!
Buanglah tissue ke tempat yang telah disediakan!.”
Aku
tulis ketiga kalimat yang lebih baik dan lebih benar itu di papan tulis. Lalu
dengan rasa percaya yang sudah menggumpal di dadaku dengan lantang aku
mengajukan pertanyaan, “Ada pertanyaan?”
Tak
ada jawaban diam saja. Mereka hanya tersenyum dan tertawa lirih, tapi sangat
jelas terlihat bahwa mereka semakin fokus kepadaku. Mungkin masih terpukau
dengan pesonaku yang baru saja aku tebarkan lewat penjelasanku tadi.
Hohoho…
baru tau dia!
“Baiklah
untuk kalimat kedua, ‘Selamat ulang tahun ya Pak’. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kalimat
ini. Kelihatannya kata ‘ulang tahun’ di sini adalah kata majemuk yang mampu
menciptakan makna baru. Jadi tidak bisa diartikan secara sendiri-sendiri. Sama halnya dengan kamar mandi, rumah sakit,
baju tidur, meja belajar, dan lain lain.
“Namun, jika kita iseng mengkaji lebih dalam
makna dari kata ulang tahun ini, kita akan merasa geli sendiri
mendapatkan makna dari dua kata tersebut. Karna sesungguhnya yang berulang itu
bukanlah tahun, tetapi tanggal dan bulan.”
“Contoh, Pak Andi lahir pada tanggal 17 Agustus 1980. Lalu pada tanggal
17 Agustus 2011 kita ucapkan, ‘Selamat ulang tahun ya Pak!’. Padahal sudah sangat jelas di situ yang
berulang adalah tanggalnya, 17, dan bulannya, Agustus, bukanlah tahunnya,1995.”
“Jadi, menurut
saya, mungkin
saja HUT itu singkatan dari Hari Ulang Tanggal. Oleh karena itu,
seharusnya kita mengucapkan, ‘selamat ulang tanggal
ya, Pak!’. Tetapi saya sangat tidak menganjurkan kalimat
ini. Seperti yang saya katakan tadi, mungkin saja kata ulang tahun adalah sebuah kata majemuk
yang menciptakan makna baru.”
“Sampai
di sini ada hal yang kurang jelas? Atau mungkin ada yang kurang memahami
penjelasan saya? Silakan bertanya!”
Seperti
pertama tadi, aku kembali membuka peluang untuk siswa mengajukan pertanyaan.
Tapi sekali lagi hanya diam dan tertawa lirih yang aku dengar. Tak ada yang
mengajukan pertanyaan.
30
detik… diam saja. Hanya tertawa lirih.
1
menit… Masih diam.
1.15
menit… juga masih diam.
Jika
diperpanjang hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, aku lanjutkan saja dengan
menuliskan sepuluh buah kalimat di whiteboard,
untuk dijadikan bahan diskusi mereka.
1. Untuk mengejar ketinggalannya Ani sekarang giat belajar.
2. Kertas Mirage, "Asyik ditulisnya".
3.
Shogun, "Rajanya 4 Tak".
4.
Kepada Bapak Syahdan dipersilakan mengambil tempat.
5.
Saya sangat sedih karena bapaknya Andi sekarang masuk rumah sakit.
6.
Kami mengucapkan ribuan terima kasih.
7.
Sila kelima Pancasila
berbunyi…
8.
Bersyukur kita karena masih diberikan kesempatan untuk berkumpul di
ruangan yang berbahagia ini.
9.
Sebelum dan sesudahnya kami mengucapkan terima
kasih atas bantuannya.
10. Saya mau ke pustaka. Ada yang mau ikut?
“Di
whiteboard saya sudah menulis 10
kalimat yang tidak benar. Saya minta Anda untuk membetulkannya menjadi kalimat
yang benar. Silakan Anda kerjakan pada buku catatan Anda terlebih dahulu.
Setelah selesai nanti saya akan meminta sepuluh orang untuk menuliskan kalimat
yang sudah diperbaiki itu ke whiteboard.
Anda boleh berdiskusi dengan teman-teman di sebelah Anda. Untuk tugas ini saya
berikan Anda waktu 25 menit. Silakan dimulai dari sekarang!” ucapku sangat lantang
dan tegas.
Setelah
itu aku mulai berkeliling untuk memastikan bahwa semua siswa bekerja.
Alhamdulillah,
kegiatan mengajar pada hari pertama itu berakhir dengan sangat mulus. Ada rasa
bangga dalam hatiku, karena ketika aku dan Pak kepsek meninggalkan kelas itu hampir
semua siswa memberikan senyum. Itu pertanda bahwa mereka senang pada pelajaran
yang baru saja mereka lalui. Walaupun sebanyak duapuluhempat poin tugas guru di dalam
kelas tidak bisa aku laksanakan semua tapi paling tidak sebagian besarnya sudah
aku lakukan. Ini pertemuan pertama, memberikan kesan yang baik dan bersemangat
itulah yang paling penting. Pertemuan berikut-berikutnya barulah lebih
menekankan pada prosedur dan substansi.
Guru
yang baik adalah yang mampu memberikan inspirasi kepada siswa-siswanya.
Selanjutnya, aku
diajak oleh pak kepsek ke ruangannya untuk diproses lebih lanjut. Nampaknya
vonis akan segera dijatuhkan. Apakah aku akan diterima mengajar di sini, atau
malah sebaliknya, aku akan ditendang karena tak layak. Ya Allah ya Rabbi,
bantulah aku, amin!
Bersambung ke bagian 6
No comments:
Post a Comment