Breaking News
recent

Cerita Bersambung "ROMANCING THE SMOKING TOWN" (Bag. 5)



 Bacalah terlebih dahulu kisah sebelumnya

 2. NGOMONGLAH PAKE BAHASA INDONESIA YANG BAEK DAN BENER! (Bag. 2)


“Baiklah, biar tidak berlama-lama dan menghabiskan waktu dengan kedua kalimat ini, ada baiknya saya langsung saja mengatakan bahwa kedua kalimat ini tidaklah benar. Malah satu diantaranya termasuk kategori tidak baik.”Jelasku mulai agak santai karena sudah masuk ke materi bahasa Indonesia.
Ini masalah sepele bagiku. Empat setengah tahun aku kuliah di Program studi bahasa Indonesia, rasanya bekal ilmuku sudah cukup memungkinkan untuk jadi pengajar di bidang ini.
“Untuk kalimat pertama, ‘Dilarang membuang sampah ke dalam closet’, Kalimat ini sering ditulis pada bahan metal atau plastik lalu ditempel di dinding toilet sebagai sebuah larangan. Sebenarnya makna kalimat ini sangat kejam, tapi juga lucu. Mengapa saya katakan demikian? Karena, jika kita kaji makna kata ‘sampah’, adalah sesuatu yang biasanya sudah tidak diperlukan lagi. Misalnya, kantong plastik bekas, kaleng susu bekas, kulit pisang, daun-daun yang gugur, kotoran kambing, dan lain-lain. Sampah-sampah yang saya sebutkan itu ada yang bersifat nonorganik dan organik.”
“Kotoran manusia adalah makanan yang sudah menjadi sampah karena tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Kotoran ini adalah ampas yang sudah diambil sarinya. Oleh karena itu kotoran manusia tergolong sampah organik.
Jadi, jika ada larangan membuang sampah ke dalam closet yang ditempel di dinding toilet bukankah ini adalah sebuah larangan yang sangat kejam? Sebab hampir semua orang yang datang ke toilet karena berhajat ingin membuang sampah. Betul tidak?” Jelasku panjang lebar dan mulai menemukan percaya diri. Di ujung kalimat aku mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan persetujuan.
“Hihihihihi…. Betuuulll” jawab mereka serempak.
Beberapa orang siswa tertawa lirih karena mulai menyadari kesalahan makna kalimat yang selama ini mereka baca. Beberapa siswa yang lain ada yang cuma tersenyum saja.
Lalu aku melanjutkan penjelasan, “ Lalu, kata ‘dilarang dalam kajian etika sebenarnya hanya boleh ditujukan kepada anak kecil atau orang yang sangat rendah kedudukannya. Lagipula dalam kajian psikologi hampir semua manusia tidak suka dilarang. Manusia lebih suka dimintai dan ditunjukkan. Sehingga dalam konteks ini menurut saya kata ini kurang baik. Alangkah bijaknya jika kita mengganti kata dilarang menjadi kata mohon atau terima kasih.”
“Jadi, menurut saya kalimat yang baik dan benar untuk mengganti kalimat ini ialah...
Mohon tidak membuang sampah nonorganik ke dalam closet!
Terima kasih jika Anda tidak membuang sampah nonorganik kedalam closet!
Buanglah tissue ke tempat yang telah disediakan!.
Aku tulis ketiga kalimat yang lebih baik dan lebih benar itu di papan tulis. Lalu dengan rasa percaya yang sudah menggumpal di dadaku dengan lantang aku mengajukan pertanyaan, “Ada pertanyaan?”
Tak ada jawaban diam saja. Mereka hanya tersenyum dan tertawa lirih, tapi sangat jelas terlihat bahwa mereka semakin fokus kepadaku. Mungkin masih terpukau dengan pesonaku yang baru saja aku tebarkan lewat penjelasanku tadi.
Hohoho… baru tau dia!
“Baiklah untuk kalimat kedua, ‘Selamat ulang tahun ya Pak’. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kalimat ini. Kelihatannya kata ‘ulang tahun’ di sini adalah kata majemuk yang mampu menciptakan makna baru. Jadi tidak bisa diartikan secara sendiri-sendiri.  Sama halnya dengan kamar mandi, rumah sakit, baju tidur, meja belajar, dan lain lain.
Namun, jika kita iseng mengkaji lebih dalam makna dari kata ulang tahun ini, kita akan merasa geli sendiri mendapatkan makna dari dua kata tersebut. Karna sesungguhnya yang berulang itu bukanlah tahun, tetapi tanggal dan bulan.
Contoh, Pak Andi lahir pada tanggal 17 Agustus 1980. Lalu pada tanggal 17 Agustus 2011 kita ucapkan, ‘Selamat ulang tahun ya Pak!’. Padahal sudah sangat jelas di situ yang berulang adalah tanggalnya, 17, dan bulannya, Agustus, bukanlah tahunnya,1995.
Jadi, menurut saya, mungkin saja HUT itu singkatan dari Hari Ulang Tanggal. Oleh karena itu, seharusnya kita mengucapkan, ‘selamat ulang tanggal ya, Pak!’.  Tetapi saya sangat tidak menganjurkan kalimat ini. Seperti yang saya katakan tadi, mungkin saja kata ulang tahun adalah sebuah kata majemuk yang menciptakan makna baru.
“Sampai di sini ada hal yang kurang jelas? Atau mungkin ada yang kurang memahami penjelasan saya? Silakan bertanya!”
Seperti pertama tadi, aku kembali membuka peluang untuk siswa mengajukan pertanyaan. Tapi sekali lagi hanya diam dan tertawa lirih yang aku dengar. Tak ada yang mengajukan pertanyaan.
30 detik… diam saja. Hanya tertawa lirih.
1 menit… Masih diam.
1.15 menit… juga masih diam.
Jika diperpanjang hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, aku lanjutkan saja dengan menuliskan sepuluh buah kalimat di whiteboard, untuk dijadikan bahan diskusi mereka.
1.      Untuk mengejar ketinggalannya Ani sekarang giat belajar.
2.      Kertas Mirage, "Asyik ditulisnya".
3.      Shogun, "Rajanya 4 Tak".
4.      Kepada Bapak Syahdan dipersilakan mengambil tempat.
5.      Saya sangat sedih karena bapaknya Andi sekarang masuk rumah sakit.
6.      Kami mengucapkan ribuan terima kasih.
7.      Sila kelima Pancasila berbunyi…
8.      Bersyukur kita karena masih diberikan kesempatan untuk berkumpul di ruangan yang  berbahagia ini.
9.      Sebelum dan sesudahnya kami mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
10.   Saya mau ke pustaka. Ada yang mau ikut?
“Di whiteboard saya sudah menulis 10 kalimat yang tidak benar. Saya minta Anda untuk membetulkannya menjadi kalimat yang benar. Silakan Anda kerjakan pada buku catatan Anda terlebih dahulu. Setelah selesai nanti saya akan meminta sepuluh orang untuk menuliskan kalimat yang sudah diperbaiki itu ke whiteboard. Anda boleh berdiskusi dengan teman-teman di sebelah Anda. Untuk tugas ini saya berikan Anda waktu 25 menit. Silakan dimulai dari sekarang!” ucapku sangat lantang dan tegas.
Setelah itu aku mulai berkeliling untuk memastikan bahwa semua siswa bekerja.
Alhamdulillah, kegiatan mengajar pada hari pertama itu berakhir dengan sangat mulus. Ada rasa bangga dalam hatiku, karena ketika aku dan Pak kepsek meninggalkan kelas itu hampir semua siswa memberikan senyum. Itu pertanda bahwa mereka senang pada pelajaran yang baru saja mereka lalui. Walaupun sebanyak duapuluhempat poin tugas guru di dalam kelas tidak bisa aku laksanakan semua tapi paling tidak sebagian besarnya sudah aku lakukan. Ini pertemuan pertama, memberikan kesan yang baik dan bersemangat itulah yang paling penting. Pertemuan berikut-berikutnya barulah lebih menekankan pada prosedur dan substansi.
Guru yang baik adalah yang mampu memberikan inspirasi kepada siswa-siswanya.
Selanjutnya, aku diajak oleh pak kepsek ke ruangannya untuk diproses lebih lanjut. Nampaknya vonis akan segera dijatuhkan. Apakah aku akan diterima mengajar di sini, atau malah sebaliknya, aku akan ditendang karena tak layak. Ya Allah ya Rabbi, bantulah aku, amin!

Bersambung ke bagian 6
Randu Arbitra

Randu Arbitra

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.